Label

Si Kecrek, Bermake Up Tebal

Sabtu, 19 April 2014






@@@@

Semilir angin malam saat itu mendayu begitu indah. Suara-suara jangkrikpun tak mau kalah ternyata. Mereka bersautan penuh semangat. Rembulanpun tampak begitu ramah menyambut kehadiranku. Kuhirup sejenak udara malam itu. Aku tersenyum merekah. Perlahan ku regangkan  sebuah meja kecil di teras rumahku. Ya .. ini adalah salah satu kebiasaanku. Belajar di teras rumah. Cukup aneh bukan?? . Mungkin, disaat yang lain lebih memilih belajar di dalam kamarnya, ditemani dengan alunan musik klasik yang menenangkan. Berbeda denganku, aku lebih memilih belajar di teras rumah. Menyendiri, seraya mengahadirkan energi-energi positif dari gempitanya malam saat itu.

Tidak hanya semilir angin dan suara jangkrik yang terdengar menyelimuti telingaku, suara lalu lalang orang di depan rumahku juga tak luput dari pendengaranku. Namun, aku tak terlalu menghiraukannya. Karena aktivitasku saat itu adalah "belajar". Fokus. Fokus, dan Fokus !!!

Di tengah kediamanku saat berkomunikasi dengan lembaran-lembaran ilmu itu, terdengar suara gaduh bocah-bocah kecil. Suara gaduh bocah itu kian mencuat, hingga terdengar sekali ditelingaku.

"lari wooooy ..." Ucap sang bocah.

Kurang lebih begitulah yang diucapkan salah satu bocah itu. Aku cukup penasaran, tapi ternyata soal-soal dalam buku lebih membuatku penasaran ketimbang mencari tau alasan tentang bocah tadi. Kuabaikan. Kulanjutkan kembali kegiatan belajarku.

tiba-tiba ....

kreeeeaaak ... (suara pagar rumah terbuka)

"Crek ... Kecreek.. Kecreeek .., permisi mbaa maaf ganggu ... "

          Bulu roma ku selalu saja naik tegang sasaat mendengar suara yang menurutku (aneh) itu. Bukan suara kecrekan itu yang ku maksud. Bukan pula suara itu yang menjadi penyebab keteganganku. Tapi, tapi sang penggenggam kecrekan itulah penyebabnya. Beliau dengan tubuh gagah, berpenampilan bak gadis cantik nan jelita. Paras wajah terselimuti warna-warni makeup, yang bila kita ukur sepertinya dapat mencapai ketebalan 5 centimeter. Beliau bergoyang ke kanan ke kiri, membuatku tak bisa berkutik. Siapakah beliau??? Ku harap kalian semua paham maksud dari ciri-ciri yang ku sebutkan.
          Aku diam. Namun, perlahan berdiri dari tempatku duduk, mencoba meraih gagang pintu. Kemudian aku mengambil langkah seribu masuk ke dalam rumah. Ya .. aku meninggalkan orang itu tanpa permisi. Tak sopan sekali diriku ini. Entahlah akupun bingung dengan diriku sendiri. Mengapa aku harus tegang? seperti sedang bertemu dengan malaikat pencabut nyawa saja. Tapi itulah yang terjadi saat itu.

Saat di dalam rumah ....

Fahmi : "Ada apaan teh?"
Ayah : "kenapa teh? kok mukanya tegang gitu?"
Aku : "ada banci .... bbbbrrrrr >.<"

Ku lihat fahmi berjalan ke arah jendela. Sepertinya dia sedang memastikan perkataanku.

Fahmi : "mana bancinya? orang ga ada .."
Aku : "yaaa udah pergilah, orang tadi teteh langsung kabur"
Fahmi : "nagapain kabur sih? sama banci aja takut"
Aku : "bukan takut, tapi geli -_- "
Fahmi : "sama aja .."
Aku : "fiiiiuuuuh .."

Alhasil belajarku pada malam itu gatot, alias gagal total. Tak hanya adikku yang menertawakanku, ternyata kakaku juga turut menertawakanku perihal banci yang datang ke depan rumah sambil bergoyang-goyang (aaaaaah ga mau dijabarin >.<) .

Diawal ku pikir ini hanyalah ketakutan yang bersifat sementara. Namun ternyata berkelanjutan dan mampu menyerang sebagian episode kehidupanku...

@@@@@
Dihari-hari berikutnyapun "Banci Effect's" itu kian meracuni otakku. Aku semakin takut bila bertemu dengan banci. Jangankan banci, untuk mendengar suara kecrekannya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Membuat aliran darahku panas dingin.

Banyak kejadian-kejadian lucu yang sering kali terjadi. Seperti kejadian saat SMA dulu ... , kurang lebihnya seperti ini :

Aku : gue pulang duluan ya ...
Temen 1 : loh ga mau barengan?
Aku : gue mau cepet pulang hehe ..
Temen 1 : ohh yaudah

Akupun berjalan meninggalkan teman-temanku. Melewati gerbang sekolah. Terus berjalan hingga hampir sampai di gapura jalan raya. Namun, sebelum sampai di gapura aku melihat 'makhluk' itu lagi. Alhasil aku balik badan, dan aku mundur kembali ke sekolahku. Disana masih ada teman-temanku.

Teman : loh kok balik lagi don?
Aku : di depan ada banci...
Teman : waaaah ..

Entahlah badanku seketika lemas saat itu. Aku tetap bersembunyi di dalam sekolah. Sedangkan teman-temanku mencoba mengecek apakah banci itu masih berkeliaran di depan sekolah atau tidak. Dirasa cukup aman, teman-temanku mencoba menghiburku. Walaupun hiburan itu pasti akan berimabas malu pada diriku sendiri ... -_-

Itu salah satu cerita dari semua cerita tentang ketakutanku dengan banci. Aku pikir dengan pindahnya diriku ke Bandung, dapat mengurangi rasa takutku. Tapi ternyata tidak. Rasa takutku kian mencuat >.<
Setiap bertemu banci disekitar kosan, pasti aku selalu bersembunyi. aaaaaaahhh seperti seseorang yang jatuh cinta saja -_- , tapi ini berbeda, aku menghindar bukan karena gugup tapi karena takut. yaaa.. takut dengan dandanan anehnya itu .. :(

@@@@@
Cerita selanjutnya ....

Suatu ketika aku keluar kosan untuk mencari sesuap nasi (alias membeli makan). Disaat aku usai membeli sekantong makanan. Akupun bergegas pulang. Saat diperjalanan, aku melihat banci berada cukup jauh dari tempatku berdiri, Tapi tetap saja itu membuat bulu kudukku berdiri. Kosanku terletak di daerah geger asih. Akibat fobiaku dengan banci. Saat perjalanan pulang waktu itu, aku lebih memilih melewati jalan yang memutar (muter lewat gersun 1 keluar ke gersun 2), karena saat itu sang banci sedang beraksi di tengah lurusan antara jalan raya gersun 1 dengan gersun 2. Mungkin, bagi orang yang mendengarkan ceritaku ini akan mengucapkan :

"lebay banget si lu don, ngapain ampe muter2 gitu jalannya. bancinya juga ga kenal lu kali"

Bukan itu. bukan itu. bukan itu. sekali lagi ku katakan bukan itu. Semua itu hadir begitu saja. Rasa takut. rasa cemas. Dan rasa ingin kabur setiap bertemu dengan 'makhluk' itu kian menghantui. Hingga saat inipun rasa itu tak dapat dikendalikan. Meskipun banyak yang memberiku nasihat untuk membuang rasa takut itu. Namun tetap saja. Lagi lagi takut itu muncul sesaat banci itu berada disekitarku.  Oleh karena itu, suara kecrekan selalu menjadi tanda bahwa ada banci disekitarku. >.<

                                                              @@@@ end @@@@









       


Edcoustic – Even in My Dream

Minggu, 23 Maret 2014


Kau slalu dihati
selalu dipikirku
sepanjang hidupku

kau buatuku tersenyum
buat ku terharu
bidadari kecilku

dekap aku walau sekejap
biarkan lelah ku hilang 
walau hanya mimpi

meski jauh kau selalu ku tunggu
kau tertidur
cintaku tak tertidur
kutimang-timang selalu rinduku
i see you
even in my dream 

dimanapun kini kau ada 
separuh hidupku ada dihatimu
kukan selalu ada menjagamu selalu 

“Mubes itu Nano Nano”

Apa yang kamu rasakan???
Lelah?
Saya jawab “Lumayan ..”
Mau nangis??
Saya jawab “iya baaaaangeeet ..”
Kesel, sampe rasanya mau makan orang??
Saya jawab lagi “maunya sih gitu ...”
Atau Malah rasanya ingin senyam senyum setiap saat??
dan saya menjawab “ Itulah yang saya rasakan diakhir Mubes beres 

Mubes itu Nano Nano ...
Ada asin
Ada Asam
Dan ada juga manis
Ada duka. Ada canda. Dan ada tawa.
Sahabat, Jadikan asinnya itu sebagai penawar lelah-lelah kita yang tak terbatas
Jadikan pula rasa asamnya sebagai penambah wujud Cinta kita terhadapNya
Dan jadikan manisnya sebagai perekat ukhuwah kita dalam meraih Ridho dariNya ... ^_^

@@@@
Ingin berbagi cerita serta berbagi unek-unek pasca mubes, tapi cerita ini ada yang di lebih2 kan dan ada juga yang dikurang-kurangi ...
Let’s check this out.. ^_^

Mungkin, Kisana Sebrang Pulau

Jumat, 21 Maret 2014

Sedihnya ...
Senyumnya ...
Tawanya ...
Saat ini, mungkin masih menjadi episode rahasiaMu

Asamnya ...
Pahitnya ...
Manisnya ...
Saat ini, mungkin pula masih teratur dalam setiap skenarioMu

Resahnya ...
Gelisahnya ...
Hingga Bahagianya ...
Saat ini, mungkin masih ditutupi layar olehMu

Wahai Sang Pemilik Hati 
Jagalah hati-hati ini dalam setiap ruang CintaMu
Jagalah hati-hati ini dalam setiap langkah meraih RidhoMu
Jagalah hati-hati ini dalam setiap kusebut AsmaMu
Dan jagalah pula hati-hati ini dalam menanti salah satu RahasiaMu

Karena mungkin, Kisana Sebrang Pulau adalah wujud dari RahasiaMu kelak ....

_210314_

NB : ini bukan puisi galau yaaaa !!! :D 




" Skenario Allah Akan Indah Pada Waktunya "

Rabu, 19 Maret 2014






"Kamu udah ada bayangan mau masuk SMA mana?"
"Maunya sih SMA 12, tapi jauh dari rumah. Mau masuk SMA 103 aje deh yah .."
"Yayah mah nurut aja apa mau pipit" 

Begitulah sekiranya dialog antara aku dan ayahku saat detik-detik menjelang pendaftaran SMA pasca menerima hasil Ujian Nasional. 

Hari pendaftaranpun tiba. Setiap peserta diminta untuk mengisi form pendaftaran, dan mencatat 3 pilihan SMA yang akan di pilih. Aku mendatangi pihak yang mengurusi form pendaftaran. dalam kondisi mengantri aku sabar menunggu. Tak lama, giliranku mengambil form tersbut. Aku ingat sekali saat itu petugas menegaskan bahwa form ini hanya diberikan satu untuk setiap peserta, maka kertas tersebut harus dijaga dengan baik. 

"neng ini formnya setiap peserta cuma diberikan satu ya.." ucap si bapak petugas.
"oh iya pak. terimakasih" ucapku mengiyakan. Aku segera bergegas menghampiri ayahku yang dengan setia menungguku di tempat parkir. 

Aku mulai mengisi form yang diberikan tadi. Saat aku mengisi data pilihan SMA, aku menjadikan SMA 103 menjadi pilihan pertamaku, dan SMA 12 menjadi pilihan terakhirku. Padahal bila dilihat dari passinggrade yang ada, SMA 12 merupakan salah satu SMA favorit di Jakarta. Aku ini aneh bukan??? -_-

dan lagi-lagi ayahku menanyakan hal yang sama perihal SMA yang akan kupilih. 
"Ayah mau nanya lagi, serius mau ke SMA 103? ga mau ke SMA 12 aja?"
"Di 12 ga ada temennya ayah" Ucapku mulai lemas
"Tapi entah kenapa ayah lebih tenang kamu di 12"
"Tapi formnya udah diisi yah, gimana? tadi kata si bapak ini cuma dikasih satu."
"oh gitu???
"Coba minta lagi pit .."

Dengan hati yang sedikit kecewa, lantas akupun bergegas kembali ke tempat petugas. Dan menuruti permintaan ayah untuk meminta kembali form. Dan Amazingnya, ternyata aku diberi form itu. Sepertinya, akibat banyaknya orang disana, sehingga petugas tak hafal bahwa aku sebelumnya sudah mengambil form tersebut. Sedikit menyalahi aturan memang. Namun apa daya. Apakah ini yang dinamakan takdir??? 

Dengan wajah yang sedikit aku ceria-ceriakan, aku menghampiri ayahku. Wajah penuh harap. Itulah yang bisa aku simpulkan saat aku mengatakan pada ayah bahwa aku mendapakan kembali form. Mencoba untuk ikhlas. Aku perlahan mengisi kembali form itu, dan mengubah kembali pilihan. Menengok sekilas raut wajahnya. Tersenyum. Indah sekali. Ya aku percaya inilah yang terbaik. Ikhlas. :)

Penyejuk Hati

Senin, 17 Maret 2014



Ini adalah pengalaman kedua saya mengajar. Banyak tawa canda yang terukir disana :)

_SDN Melonga Asih _

@@@
Banyak hal yang terjadi saat saya observasi di sekolah ini. Ini adalah sekolah kedua saya melakukan kegiatan belajar mengajar dengan anak Sekolah Dasar , setelah yang pertama di daerah Cibodas, lantas yang ini saya melakukan simulasi mengajar di SDN Melong Asih.

Mungkin kalian bertanya, ngapain sih observasi sampe ke daerah Cijerah don?? di deket UPI juga banyak. Jawabannya sederhana, karena sistem perizinan untuk observasi di Sekolah Dasar itu tak semudah terjun dari lantai 3 -_- . Birokrasi yang menyulitkan, sampai terkadang ada sedikit rasa jengkel yang menempel disini. 

Ada beberapa kejadian di sini yang membuat saya jadi tau bahwa karakter setiap anak-anak itu berbeda. Kejadiannya kaya permen Nano, ada asin ada asem ada manis. Mulai dari kejadian lucu, haru, sampai membuat harus berulang kali mengelus-ngelus dada (sabaaaarr ..). Dengan kata lain, intinya kita harus mampu masuk ke dalam dunia mereka.

@@@





@@@

Hari itu saya dan teman saya mengajarkan anak-anak tentang menggambar menggunakan teknik montase dan membuat pameran karya dalam bentuk diorema. Cukup sulit sebetulnya. Tapi saya bangga ternyata mereka dapat melakukannya. Jumlah siswa di kelas itu sekitar 30 orang. Saya berinisiatif untuk membagi mereka pada 4 kelompok besar. Dua kelompok untuk montase, duanya lagi untuk kelompok diorema. Disini dengan maksud agar mereka dapat mempelajari bagaimana rasanya belajar secara berkelompok. Mereka cukup antusias saat saya membagi kelompok. Antusias mereka yang berlebih membuat saya kewalahan menanganinya. (maksudnya mereka itu lari sana lari sini -_-) Dan yang paling wewnya saya dipanggil "ibu" sama mereka. Mereka sopan sekali yaa .. :) 

Bukan hanya menghadapi anak-anak yang lari sana sini. Tapi ternyata saya juga harus menghadapi anak perempuan yang tiba-tiba berantem, dan alhasil ada yang nangis deh, maklum anak peremuan itu memang sedikit sensitif #eh :D (dan seketika saya mau teriaaaaaaak ... !! >.<)

Saya pikir cukup hanya sampai situ aja, ternyata eh ternyata di akhir pembelajaranpun ada saja hal-hal unik yang mereka lakukan, sampai gemes sendiri ngadepinnya -_- 

"ade-ade ibu punya beberapa majalah bobo nih, siapa yang mau"
"sayaaaaa buu !!" Ucap mereka bersamaan.
"Tapi ada syaratnya, kalian harus jawab pertanyaan ibu dulu. Nanti yang bisa jawab bisa ambil majalah bobo ini" Ucap saya menjelaskan.
"Siaaaaap bu !!" Ucap mereka lagi antusias.

Ternyata tanya jawab dengan mereka tidak semudah yang saya bayangkan. Banyak diantara mereka yang iri karena tak mendapat kesempatan untuk menjawab. Alhasil ada murid yang jengkel, hingga keluar kelas. Adapula murid yang meminta saya untuk membawa majalah bobo lebih banyak lagi. (omaygaaaaaat >.<)

Ini pengalaman observasi saya yang paling unik sejagad raya. haha

_THE END_






Circle of Love


Hari itu akhirnya tiba
Terbalut rasa was-was 
Ku coba menelaah setiap skenarioNya
Terselimuti rasa rindu
Ku coba memahami setiap alurNya

Ku telah coba rangkaikan sebuah episode cerita
Ku telah coba ukirkan kata suka duka
Ku telah coba lukiskan sketsa cita
dan Ku telah coba ungkapkan rasa cinta

Dan ternyata, 
Ku temukan rasa cinta di sana
Ku temukan rasa rindu di sana
dan Kutemukan keluarga di sana 

Walau singkat,
Aku yakin, hati-hati ini tetap terikat dalam barisan yang rapat
Tiada kata sesaat,
Karena aku yakin, Cinta ini tetap tersirat dalam meraih SyurgaNya yang nikmat 

_070214_



"Tuhan Tahu Kita Mampu"

Selasa, 28 Januari 2014






Together We Are Strong :)
        Lagu akan ini menjadi salah satu pengingat, bahwa akan selalu ada pundak-pundak yang akan membantu meringankan beban-beban yang ada. Allah kuatkan kita dengan adanya ikatan Ukhuwah ini. Karena Aqidah kita dipertemukan. Karena rasa percaya kita diikatkan oleh cinta dariNya. Ikatan yang senantiasa selalu dalam naungan Rhidonya. Ikatan yang selalu menghantarkan kita pada moment-moment indah. Ikatan yang akan membawa semangat kita naik disaat turun itu melanda. Ikatan yang terlintas membuat kita enggan untuk meninggalkannya. Sahabat, percayalah saat kau terpuruk dan terjatuh pasti akan selalu ada sosok-sosok yang akan melawan keterpurukkan dan keterjatuhanmu. Dan sosok itulah yang kelak membangunkan keterjatuhanmu :)

Antara Mimpi, Pengorbanan, Karya, dan Amal


Percakapan bercanda, yang membuahkan hasil yang bermanfaat :) 

X : Namun sayang apapun yang kau lakukan tak mampu menumbuhkan perhatianku padamu ...

Y : Tak apalah dirimu tak menumbuhkan rasa perhatianmu padaku tapi bagiku menuggu sebuah perhatian darimu adalah sebuah anugerah yang luar biasa indahnya.

X : Menyentuh hati sekali kata2mu, tpi ingat satu hal, jangan menunggu hal2 yg tidak pasti kawan.

Y : Beranilah bermimpi kawan, ingatt harapan itu masih ada, batu sekeras apapun akan terbelah oleh lembutnya sang air

X : Tapi jangan jadikan mimpimu hanya sebatas tulisan di atas pasir pantai. yang saat terkena arus ombak nantinya akan cepat hilang.

Y : Benar apa katamu kawan, tapi akan kutuliskan mimpi itu diatas batu agar tak pernah hilang dalam ingatan

X : Tapi apakah kau yakin tulisan itu akan tetap kekal?? ingat, alam itu amat keras kawan. bahkan superhero pun tak mampu melawannya.

Y : Tanpa keberanian apapun akan takut jika menghadapinya kawan, tapi masukanlah mimpi itu ke dalam     hatimu dan pikirkanlah apa yang membuatmu yakin dan rasakan, superhero boleh lebih kuat tapi hati ini lebih lembut dari apa yang kau kira.

"Surat Cinta Untuk Indonesia"

Selasa, 07 Januari 2014


Dear Negara Tercintaku, Indonesia ...

Indonesia, satu kata itu cukup mempengaruhi ranah hidupku.  Aku lahir di negara itu, dan aku dibesarkan pula di negara itu. Mungkin bukan hanya mempengaruhi ranah hidupku, melainkan ranah hidup rakyat Indonesia yang lain.
Negara tetangga banyak yang mengakatakan, bahwa Indonesia adalah wilayah yang katanya berkependudukan padat, wilayah yang katanya strategis dalam kancah perdagangan, wilayah yang katanya memiliki sumber daya alam utama terbanyak, dan wilayah yang katanya hijau dan sejuk dengan pepohonan rindang serta gunung-gunung yang membentang disetiap dataran tinggi di Indonesia. Namun bila kita telaah lebih jauh kembali, apakah semua itu sudah menjadi realitas saat ini??  Sepertinya semua itu hanya terdengar “katanya” ditelinga rakyat Indonesia. Lantas apa yang sesungguhnya terjadi?? Sepertinya rakyat Indonesia tidak menikmati keindahan Indonesia yang sesungguhnya. Sepertinya, apapun yang dilontarkan dari negara-negara tetangga tersebut seakan-akan hanya kamuflase belaka bagi rakyat Indonesia. Mengapa harus adahal seperti itu wahai Indonesiaku?? Karena sepertinya yang menikmati keindahan Indonesia itu hanya para tuan-tuan berpakaian jas dan berdasi saja, serta nyonya berpakaian dress mewah dengan highheels yang terkadang kita tak sanggup untuk mengukur ketinggian haknya. Miris bukan?? Benarkah Indonesiaku seperti itu??
Mari kita potret ulang, kilas balik Indonesia beberapa tahun silam hingga tahun ini. Kita awali dengan peristiwa tahun 98, peritiwa ini cukup mengegerkan berbagai belahan dunia saat itu. Bila digambarkan, yang teringat oleh banyak orang mungkin hanya terlihat mahasiswa yang kerap turun ke jalan, aksi sana-sini, namun dibalik itu semua sebetulnya dilakukan untuk mempertahankan aspirasinya, memprtahankan keadilan yang sesungguhnya. Saya sempat teringat dengan kata seorang kakak tingkat saya dulu, beliau pernah bertanya kepada saya seperti ini, “apakah tanggapan kamu tentang aksi-aksi mahasiswa yang turun ke jalan?” diawal saya bilang kalau aksi itu “menakutkan”, lantas kaka itu mencoba untuk menengahi, beliau mengatakan bahwa “ mereka (mahasiswa) tidak akan sampai turun ke jalan kalau tidak ada sebabnya, mereka seperti itu karena mungkin ada hak-hak yang tidak mereka dapatkan. Seperti contohnya adalah mungkin aspirasi mereka yang ditolak dengan alasan yang kurang jelas, atau kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak mengandung unsur keadilan.

"SEULAS RINDU" (Part 2)

Minggu, 05 Januari 2014

Berawal dari secarik surat yang ana dapet dari seseorang hari ini,perlahan namun pasti ana mencoba untuk membaca tulisan itu dengan diiringi lantunan merdu “sebiru hari ini”-nya edcoustic. Entah emang ana yang terlalu melankolis atau mata ana yang lagi kelilipan, tiba-tiba turunlah bulir-bulir bening yang jatuh secara perlahan membasahi mata ana (eeh ini ciyuss loh, ga boong!!). pasti readers pada nanya “lebay amat sih, emng isinya tentang apaan sih??”, dan jawabannya itu adalah KALIAN. Setiap kalimat yang tertulis pada secarik surat itu mengingatkan ana dengan kalian. Mengingatkan tentang awal dimana kita dipertemukan dulu. Mengingatkan ana tentang pertemuan kita yang telah Allah rancang sedemikian rupa indahnya. Dipertemukan dalam suatu amanah yang diridhoi Allah SWT (insyaAllah).

Kalian harus yakin karena aqidahlah kita dijadikan saudara, karena imanlah kita dijadikan kawan, serta karena ukhuwahlah kita dijadikan keluarga. Berkaca pada kondisi moral manusia saat ini, ana bersyukur banget banget banget, sebab Allah telah memberikan saya hidayah yang super luar biasa dasyatnya saat SMA dulu. Saya ga tau apa jadinya ketika dahulu saya ga peka untuk mengambil hidayah itu. Mungkin saat ini saya ga akan pernah paham tentang tujuan saya hidup di dunia ini untuk apa. Mungkin saat ini saya masih terombang ambing dibawa arus ombak, yang entah ombak itu mau membawa ana kemana. Mungkin di saat yang lain sudah mulai berlari, saya masih aja berdiam diri tanpa tujuan yang jelas. Mungkin pula disaat yang lain mulai mencoret-coret kertas yang kosong, saya masih aja berdiam diri tanpa tau apa yang akan saya lakukan dengan pensil yang saya pegang dan kertas kosong itu. Hambar, begitulah salah satu rasa yang mewakili tentang diri saya ketika saya blm dapat menyadari hidayah dari Allah yang udah didepan mata itu. Tak berwarna, mungkin itulah gambaran nyata tentang diri saya ketika  belum mengenal kalian.

Semua kisah indah itu berawal ketika awal masuk 12 . awal masuk, saya selaku siswa baru disuguhin dengan orasi2 dari kakak klas saat MOS, katanya sih mereka calon Ketua Umum osis sama MPK . Seinget saya waktu itu smpet ada yang orasi pake becak (betul ga sih hehee). Okeh !! untuk moment orasi yang ini diskip dlu ya hehe, berlanjut ke promosi ekskul pas mos. Pas promosi ekskul, kita para siswa baru dicekokin banyak ekskul. Dari situlah saya mulai galau tingkat dewa mau masuk ekskul apa. Tadinya sempet mau masuk padus,eh tapi ga jadi soalnya ga ada temennya. Sampe pada akhirnya saya di doktrin sama kakak, buat ikut ekskul rohis. Inget banget ketika beliau mengatakan bahwa “Rohis Itu Never Die”, pas kaka saya ngmong kayak gitu, saya Cuma bisa manggut-manggut aja kayak gantungan yang ada dikaca mobil -__- (maklum masih awam). Tanpa pikir panjang lagi akhirnya saya mencoba untuk daftar ekskul rohis. Saya berpikir rohis itu ga akan sibuk-sibuk amat , jadi saya nurut-nurut aja buat masuk ekskul rohis. Oh iya selain promosi ekskul, pas mos jg ada kegiatan yang sangat amat langka saya dapetin disebelum-sebelumnya. Namanya itu mentoring, catet yah M-E-N-T-O-R-I-N-G. Jujur itu pertama kalinya saya mengenal mentoring. Tau kesan pertama saya mentoring??? Rasanya itu deg-degan, takut. Emm, gimana ga takut yang jd tutornya jilbabnya lebar-lebar banget, jd saya ngerasa gimana gituuuuh. Begitulah image jilbaber saat itu di sekolah saya -_- ...




(TO BE CONTINUED ......)

"SEULAS RINDU" (Part 1)



SMAN 12 Jakarta Timur 

Suatu ketika ana ga sengaja melihat foto ini disalah satu album foto seorang akhwat (eh ketauan deh suka kepo :D). Potret sebuah sekolah minimalis. Sekolah siapakah ini? iya betul sekali, ini sekolah SMA tercinta kita ukhti-ukhti solehah. Sekolah yang bersejarah menurut ana  dan menurut kalian juga. Bukan begitu?? Sekolah ini yang pertama kali mempertemukan kita loh  . Sekolah yang mempertemukan kita disebuah komunitas yang luaaaaaaarrr biaaaasaaaa buangeet ngeet indahnya. Inget banget, saat pertama kali ketemu itu ana masih unyu-unyu banget. Tapi sekarang juga masih unyu-unyu kok. Bahkan tambah unyu-unyu hehe ...

Renungan Malam in LDKM 

Peserta Akhwat LDKM 
Kalo foto yang ini masih inget ga??? Masih inget lah yah. Apalagi ada ananya, pasti makin inget . Ini foto saat kita LDKM dulu loh. Kalo ga salah ini foto pasca apel. (iya gasih? Apa sebelum apel yah? Lupa hehe). LDKM, Latihan Dasar Kepemimpinan Muslim begitulah panitia saat itu menyebutnya. LDKM ini gerbang awal ana mengenal  arti sebuah perjuangan. Bukan cuma ana deng, tapi Kita hehe. Apalagi kalo inget mars LDKM saat itu. Rasanya mau nangis kalo dengerin lagu itu T_T  (lebay woooy -_- ).  Ditambah ada yang ngepost video clip lagu itu di group Ashabul Kahfi Jilid II. Jadi semakin teringat moment saat LDKM, dan tentunya moment-moment saat kita bersama di sekolah dulu.  Lagu “Bingkai Kehidupan” memberi kesan spesial disepotong episode kehidupan ana hhe 

Masjid SMAN 12 

Nah kalo foto yang ini gimana??? pasti ga mungkin lupa. hehe 
ini tempat favorit kita buat ngumpul. Bukan begitu? Tempat kita kumpul saat istirahat,dimana saat yang lain belok ke arah kantin, eh kita malah belok kesini (co cweet banget). Tempat kita kumpul saat jam pulang, saat yang lain berbondong-bondong menuju gerbang sekolah, eh kita malah belok kesini. Lagi dan lagi kesini. Entahlah seperti ada magnet disini. Padahal kita beda-beda kelas. Itulah ukhuwah, selalu ada dan akan tetap ada sampai kapanpun. 

Hijab hijau itu saat ini apa kabarnya yah?? Hijab bersejarah tuh hehe. Hijab itu masih infet kita ga yah? T_T . Teringat saat kelas sepuluh dulu, masa-masa masih polos banget (walaupun sekarang juga masih polos sih hehe). Masa dimana masih terlontar pertanyaan “kenapa ngomong sm ikhwannya harus ngucap salam, sambil goyang-goyangin hijab dulu??” .  Jawaban jangka pendek saat itu adalah karena kaka kelas pada ngelakuin itu. Jadi intinya ngikutin kaka kelas. Ckck. Tapi lambat laun kita jadi tau esensi dari adanya hijab ini kan??  . Sayangnya di kuliah udah ga kaya gitu lagi, udah ga goyang-goyangin hijab lagi hehe. Sedikit berbeda perlakuannya. ” Keadaan SMA sm kuliah itu beda” , begitulah salah satu pesan yang pernah dilontarkan kaka alumni saat lagi galau-galaunya mau masuk kuliah , dan ternyata terbukti.  Emang cukap berbeda, dan emang harus ekstra hemmm  -_- 

Balik lagi ke tempat ini yuk. Tempat ini juga jadi tempat favorit kita kalo mau ‘ngelingker’. Walaupun tempat kita ga cuma ini aja sih. Kita kan nomaden, hampir semua masjid udah dicobain (lebay lagi hehe). Kalo ngomongin tempat ini ga akan ada habisnya. Melihat tempat ini selalu inget kalian. Bukan hanya saat melingkar aja, tapi saat dimana kita dinobatkan jadi “Masyur” (Manusia Syuro) -_- .  Tawa, canda, haru, sampe nangispun pernah kita lakuin disin. Cung siapa yang ga pernah nangis disini??? Hehe (malah buka kedok hehe). Jangankan nangis, berantem aja pernah (astaghfirullah) . Tiga tahun itu bukan waktu yang singkat, jadi ga salah kalo banyak kejadian yang unik dan mengaharukan disini.

PELANGI 
Inget yang ini??
ini acara pertama kita waktu kelas sepulu loh. Kalo ga salah nama acaranya itu "PELANGI" . Acara ini pengalaman banget lah. Oh iya acara ini itu sebelum LDKM atau sesudah ya? Lupa -_-  . Yang jelas acara ini keren banget lah. Apalagi yang jadi bendahara acaranya, wiiiihhh keren banget hehe :D

Logo LDKM 

hayo kalo logo yang ini siapa yang buat?? 
Ini logo LDKM saat kita yang jadi panitianya loh. Kalo PELANGI itu acara pertama kita saat masih polos-polosnya, nah  LDKM yang ini jadi proker terakhir kita saat jadi pengurus. bukan begitu?? 
Atau seminar keputrian yang terakhir? (lupa lagi, astaghfirullah -_- )

Pasca PENSIL
Entah kenapa suka banget sm foto ini. Soalnya semuanya ngumpul disini. huhu senengnya :), ini foto pasca acara PENSIL . Siapa yang PJ akhwat waktu itu? (eeeh?? :p) . pokoknya suka sama foto ini. :)

Puncak Bukit Kali Urang 
Kalo untuk foto ini mohon maaf ya yang ga ikut foto disini (kasian deh heh :p) . Ini foto saat di puncak kali urang. Kerenlah pokonya. Tapi sayangya ga semua ikut foto disini  . 
Inti dari tulisan dinote ini pokoknya adalah ana rindu kalian. Rindu masa-masa itu. Masa dimana kita selalu berkumpul. Bukan berkumpul yang hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia, tapi InsyaAllah bermanfaat. Rindu tertawa bersama, rindu berantem bersama (eeehh? Walaupun berantemnya cuma satu hari terus besoknya udah baikan lagi hehe), rindu nangis bareng kalian. Hiks hiks hiks.  
Dan satu lagi rindu makan ‘ NU (Nasi Uduk)’ bareng kalian. Yaaah walaupun makan nasi uduk itu adalah kegiatan favorit makhluk2 disebelah hijab sana sih. Tapi tetep jadi favorit kita juga kok hehe 
Satu pesan terpenting dari ana, jangan pernah lupain ana ya. Soalnya  jarang2 punya sodara kaya ana loh hoho :D 

Ini beberapa list lagu yang kadang bikin rindu kalian :
1) Doa robitoh, izzis
2) Sebiru hari ini, Edcoustic
3) Bingkai Kehidupan , SH
4) Jalan Juang, izzis

Ana Uhibbukum Fillah  ......... :)

“Langit Tak Pernah Semu”

“Ra bangun, salat subuh yuk !”

            Suara lembut sahabatku membangunkan tidur singkatku, setelah semalaman suntuk berkutat pada soal-soal takehome dari dosen tercinta. Sebelum tubuh beranjak keluar kamar, kutengok sekilas jendela kamarku. Kubuka sedikit tirai hijau toska jendela itu. Terlihat langit indah masih membentang menembus keheningan. Raja Malam dengan ditemani bintang-bintangpun tak luput memancarkan keindahan sinarnya. Aku terdiam sejenak, seraya memangku kedua tangan pada kayu jendela, layaknya aktris-aktris disinetron.  Pandanganku tak lepas dari Sang Raja Malam itu. Melamun, entahlah sepertinya melamun adalah salah satu kegemaranku sejak kecil. Memandang dan memandang, begitulah yang kulakukan.
“Indah ...” Gumamku dalam keheningan.  
“Ra cepet ke kamar mandi ambil air wudhu, kita salat subuh berjamaah”.  Disela lamunanku, aku dikejutkan kembali oleh suara sahabatku. Sepertinya aku mulai terhanyut kembali pada lamunanku, sampai melupakan bahwa sudah masuk waktu subuh. Kebiasaan buruk.
“ooh iya iya. Hehe “ Ucapku. Lantas kututup kembali tirai itu, dan menyegerakan diri untuk mengambil air wudhu.
☺☺☺

Kubuka pintu kostan dengan perlahan. Saat ini aku sedang bersiap-siap untuk memulai aktivitasku di kampus. Subhanallah, ternyata pagi telah menyambutku dengan begitu ramah. Mentaripun tak angkuh untuk memperlihatkan keelokannya.

“Namaku Zahra Ainiyah. Keluargaku sering memanggilku ‘Aini’, tapi teman-temanku lebih menyukai memanggilku dengan nama ‘Ara’, alhasil saat ini aku memiliki dua nama panggilan. Layaknya artis papan atas saja, memiliki nama panggilan lebih dari satu.
Alam, satu kata yang selalu mengantarkanku pada dunia bawah sadar. Sebut saja melamun. Terkadang terlintas dalam benak, alasan mengapa aku begitu menyukai alam, mungkin salah satunya adalah karena arti salah satu dari namaku “Ainiyah” yang berarti “Pohon Rimbun Bersemi”. Alasan yang kurang akurat memang, namun itu dapat dijadikan salah satu alasannya”

“Kebiasaan Ara ga pernah berubah ya? Ngelamun terus kerjaannya.” Ucap salah satu teman satu kostku. Lagi dan lagi ucapannya menyadarkan lamunanku. Bagitulah teman satu kostanku, Fatin namanya. Malu rasanya dinobatkan sebagai ‘Gadis Melamun’ olehnya.

Hehe.. iya maaf tin. Hayu kita berangkat” Ucapku ceria.
Kamipun bergegas ke kampus. Sepanjang perjalanan ke kampus, kedua bola mata lebarku ini tak pernah lepas dari pemandangan sekitar. Pohon-pohon rimbun yang bersemi, angin pagi yang berhembus seakan menyapaku, sambil berkata “Selamat Pagi”. Khayalku terlalu berlebihan. Sungguh indah cinta dari-Nya. Semua yang diciptakan sesuai dengan proporsi masing-masing. Layaknya manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka ada untuk saling melengkapi satu sama lain.
☺☺☺

 “Kamu lagi lihat foto siapa tin?” Ucapku disaat tak sengaja melirik Fatin yang sedang sibuk melihat foto-foto di laptop doraemonnya itu,  yang entah foto siapa.
 “Ini temanku dari UNSOED. Lihat !! keren yah, perempuan berani naik-naik ke gunung. Aku mah ga akan berani. Hehe” Ucap fatin, sambil menunjuk salah satu foto di laptopnya, dan terlihat foto seorang perempuan yang tertutupi oleh siluet matahari sore sedang memegang bendera. Sepertinya itu bendera organisasinya.
Naik-naik ke gunung? Seperti Ninja Hatori saja hehe” Kataku meledek.
Kamu pernah naik ke gunung ga Ra?” Tanya Fatin kepadaku.
Dengan wajah polos, aku hanya dapat menggelengkan kepala, pertanda bahwa aku belum pernah melakukan itu.
Yah payah kamu. Katanya suka alam, tapi belum pernah ke gunung? ” Ucap Fatin dengan nada memanas-manasi.
Bukannya payah, tapi memang belum pernah ada yang mengajakku untuk naik gunung Tin.” Ucapku lemas.
Hahahaha ... “ Tawa Fatin menggelegar. Membuatku enggan untuk melanjutkan perbincangan. Toh, mencintai alam itu bukan berarti harus naik ke puncak gunungkan?  
☺☺☺

“Pray plus Try”

“Pertama-tama saya ingin mengucapkan puji dan syukur terhadap Allah SWT karena berkat keikutsertaan beliu anak-anak didik saya dapat menyelesaikan studinya dikampus tercinta ini. Saya mengucapkan selamat bagi para wisudawati dan wisudawan yang telah sukses meraih asanya dikampus ini dengan kurun waktu yang tidak begitu singkat menurut saya ..........”

Fajar POV

“...... mengucapkan selamat bagi para wisudawati dan wisudawan yang telah sukses ....” ucap Sang rektor.

Tak terasa hari ini aku dapat merasakan nyamannya duduk dikursi sebuah aula yang mewah dengan dekorasi yang dirancang sedemikian rupa indahnya, ditambah dengan kemeja putih berdasi,celana hitam, jas hitam, serta topi toga yang saat ini sedang kupakai. Terlihat tampan bukan? Kalau dibayangkan, saat ini aku tak kalah tampan dengan Lee Minho, aktor dari Korea, bahkan jauh lebih tampan hehe. Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan diri, aku Fajar Abdillah, orang-orang biasa memanggilku Fajar. Aku salah satu mahasiswa lulusan PGSD. Kini aku sedang menghadiri acara wisuda, sebuah acara yang paling aku tunggu-tunggu beberapa tahun belakangan ini.  Sebuah acara yang mendeklarasikan keberhasilanku atas usaha-usaha yang aku lakukan sebelumnya. Terkadang, aku hanya dapat tersenyum lebar ketika otak ini mengingat kembali memori-memori tentang masa laluku. Banyak sekali pengalaman hidup yang aku petik beberapa tahun belakangan ini,bila ceritaku ini dibukukan pasti akan menjadi cerita yang bombastis. Kalau saja aku memiliki hobi menulis dan cita-cita untuk menjadi penulis,saat ini mungkin posisiku pasti setaraf dengan ‘bang Andrea Hinata’, menjadi seorang penulis yang berbakat dan sukses, hehe. Namun sayang aku tak terlalu suka menulis.


(5 tahun silam ..)

Author POV

Ruang kelas saat ini sangat gaduh, ditambah dengan kehadiran bu Ratri, seorang guru bimbingan konseling (kalo kita sering sebutnya guru BK) yang memiliki kepribadian yang easy going,jiwa muda (walaupun umurnya tak lagi muda hehe) dan sikapnya yang rendah hati.  
“saat ini kalian sudah kelas 3 SMA kalian harus menentukan rencana kalian selanjutnya, apa saja yang akan kalian lakukan setelah lulus nanti. Apakah kuliah? kerja? atau melanjutkan kepenghulu? Ucap bu Ratri dengan sedikit leluconnya.

Canda tawapun mulai memenuhi ruang kelas. Namun ternyata lelucon bu Ratri tak mampu membuat Fajar sedikit mengakat bibirnya untuk sekadar tersenyum, Fajar terlihat begitu murung dan tak bersemangat.

Aziz POV

“.... apa saja yang akan kalian lakukan setelah lulus nanti. Apakah kuliah? kerja? atau melanjutkan kepenghulu?...” Ucap bu Ratri.
Aku hanya dapat tertawa mendengar lelucon guru energik itu, tak salah bila aku sangat mengidolakan beliau. Dikalimat terakhir beliau,sedikit membuatku perang batin. ‘apa rencana aku selanjutnya setelah lulus, kerjakah?? tidak! Aku belum punya keahlian untuk kerja, apa langsung ke penghulu aja ya? Tidak!! Tidak !! bagaimana kepenghulu, wong pacar aja ga punya (-___-“), pilihan untuk kuliah  kayaknya yang paling mutakhir deh’ Batinku. Setelah mantap menjawab (dalam hati) pertanyaan bu Ratri, aku lantas menoleh ke Fajar teman sebangku-ku, aku ingin menegetahui apa jawaban dia.
“jar,kalo kamu pasti mau ngelanjutinnya kepenghulu ya?? Hehe” ucapku sedikit meledeknya. Namun sayang reaksinya biasa-biasa saja, bahkan terkesan dia tidak mendengarkan gurauanku. Kasihan sekali aku ini (-__-‘).
“kacang .. kacang .. kacang .. kacang  mahal “ ucapku penuh penekanan.
‘BINGO’, dia menoleh. Kenapa ketika aku sebut makanan dia langsung menoleh?ckck
“kamu lagi jualan kacang apa ziz? Tumben banget” (GUBRAKKK ...) ucapnya santai, sambil mengembalikan posisi tubuhnya seperti sebelumnya, seraya kembali kedalam dunia lamunanya .
‘aiissh, lagi kenapa sih ni orang?’ Batinku. Aku memutuskan untuk menanyakannya dilain waktu saja, takut darah tinggiku kambuh.

Fajar POV

“jar,kalo kamu pasti mau ngelanjutinnya kepenghulu ya?? Hehe”
“kacang .. kacang .. kacang .. kacang  mahal “
Begitulah seruntutan kaliamat yang diucapkan teman sebangku-ku ini. Teman sebangku-ku ini memang dikenal sebagai pria yang cukup cerewet. Aku tau dia pasti sangat kecewa karena aku tidak merespon pertanyaanya, dan malah terkesan mengabaikannya, ditambah aku hanya menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak aku jawab.

“kamu lagi jualan kacang apa ziz? Tumben banget” ucapku santai, sambil mengembalikan posisi tubuhku seperti sebelumnya, seraya kembali kedalam dunia lamunanku. Seusai aku mengakatan kalimat tersebut, Aziz sudah tidak berkicau lagi, mungkin kalau dia melanjutkan aksinya, darah tingginya akan kambuh.
Sebetulnya aku mendengar pertanyaan yang dia ajukan, tapi aku tak tau ingin menjawab apa. Sebab aku juga masih ‘galau’ ingin memilih yang mana. Aku ingin sekali meneruskan kuliah dan mencapai cita-citaku untuk menjadi seorang dokter spesialis anak, tapi sepertinya itu hanya akan menjadi angan-angan saja dihidupku.

‘uang .. uang .. biaya .. !!!’ itulah masalah utamaku saat ini. Keterbatasan ekonomi ternyata mampu membuat diriku yang selalu semangat berubah menjadi butiran debu yang mudah ditiup begitu saja. (maksudnya gampang goyah gitu). Penghasilan ayahku yang tak memungkinkan setiap bulannya, semakin memperpuruk keyakinanku untuk kuliah, ditambah keberadaan ke 3 adik-adik ku yang saat ini juga sedang haus-hausnya menuntut ilmu disekolah, dan tentunya memerlukan biaya yang tak kalah banyak. Meskipun ibuku membuka usaha menjahit dirumah, namun tetap saja tak cukup untuk mebiayai kuliahku kelak. Ditambah biaya kuliah untuk jurusan kedokteran yang terkenal sangat ‘ekstrim’.
‘huuh kenapa hidup itu memusingkan sekali sih’. Gerutuku dalam hati.